Selasa, 14 Juni 2011

Ini Dan 3 Terakhir

Adalah sebuah nama
Adalah sebuah makna
Adalah sebuah arti
Adalah sebuah rasionalitas


Sebuah nama adalah amanah
Sebuah makna adalah pemahaman 
Sebuah arti adalah pengertian
Sebuah rasionalitas adalah pemikiran


Kau adalah sumber dari pemikiranku
Pengertian dari namamu terkandung amanah
Sehingga pemahaman yang didapati
Berguna untuk diriku

-Anugraha Pangestu-

Rahayu

Duduk sendiri tanpa belas kasihan
Sembari bernyanyi pilu dengan deras air mata
Semua racun-racun rindu telah mengalir
Keseluruh bagian-bagian tubuh


Jauh tak menjadi penghalang bagiku untuk bertemu
Mencari terus menerus tentang dirimu
Sedih, rasanya sangat sedih dan pedih
Berharap kau berbicara juga padaku di lain sisi


Tetes air mata terus membasahi lekuk-lekuk senyumku
Terbesit tanya disetiap doaku
Akankah kau menjadi milikku suatu saat nanti
Rasanya tidak mungkin, tidak mungkin


Kau kusayang, begitu beratnya aku melepas dirimu
Kusebut namamu untuk datang dalam mimpiku
Bayangmu selalu mengikuti kemana pergi
Hilang semua sedih saat kau hadir di hati


Seperti namamu Rahayu, Matahari kehidupan
Menghangatkan wajah-wajah dinginku
Langkah-langkah kelabuku
Aku ingin kau di sisiku saat ini

-Anugraha Pangestu-

Senin, 13 Juni 2011

Puji

Pernah pupus harapan-harapanku
Disaat lepas pisah tak jumpa lagi
Bersama ikatan tahun itu,menginginkan
Dari mata dirimu memandang


Mengenang dirimu seperti sakit berabad-abad
Kunjung kuasa tak luput fantasi otak
Mimpi bagai nyata dalam hidup
Tapi hidup tak menerima kenyataan


Kisah yang tak pernah aku jalin
Bahagia hanya untuk hati yang merana
Memandang dari mata derita
Tersimpan dalam kertas senyum bahagia


Kau adalah puji
Untuk cinta syukur dan kasih
Syukur untuk suatu terindah
Segala hal terimakasih

-Anugraha Pangestu-

Minggu, 12 Juni 2011

45-19-25

Tepat rasanya diriku merasakan inginku
Memilih dirimu sebagai teman hatiku
Usai lambai tak kunjung selesai
Cerita lama sudah terajut rapih


Seandainya penguasa waktu sahabatku
Ingin aku ulang semua rajutku
Menggenggam lentik jari-jemari
Kecup indah menari-nari


Dari puisi mengalir kehatimu harapku
Seperti sesal tak menyesal langkahku
Rasanya tersesat didalam jalan yang lurus
Menemukan dirimu tak bersanding

-Anugraha Pangestu-

Paras Sukma Malam

Bergelimang dengan hiasan lembaran-lembaran dewa
Menutupkan hati dari bertaubat kembali
Rasa dingin yang mendambakan kehangatan
Mencium aroma banyak tubuh tak dikenali


Hasrat yang tak pernah kunjung henti
Tujuh puluh kali jika kau tak melakukan sunahmu
Seperti lawanmu dalam hal itu
tak memuaskan jikalau hanya sekali mencicipi


Sentuhan-sentuhan membuatmu mengerang
Menggelinjang bergetar seluruh aliran hasratmu
Memaksa bumi untuk berdosa
Marah, ingin menelanmu hidup-hidup


Sesukamu mempermainkan nikmat terindah
Sekali memikirkan tetap melakukan
Untuk kehidupan kesenangan semu
Kau rela korbankan apa-apa darimu

-Anugraha Pangestu-

Puji Untuk Bunga

Indah elokmu disetiap tulisan baitku
Jikalau kau terus memahami arti sebuah rahasia
Jalanmu takkan terhenti hanya untuk
Penanggung kesalahan-kesalahan dan caci maki


Aku lukiskan hati untuk menghibur laramu
Tapi tak berarti kalau berbeda
Andai kamu dapat memahami labirin-labirin diriku
Mungkin bisa kau temui jawabannya


Bolehkah aku sandingkan namamu dengan rembulan
cerah menemani dalam sunyi senyap bisu
Permai ayu dalam puji untuk melindungi
Sesuatu hal akan dirimu


Berharap dapat menyandarkan jangkar-jangkar luka ini
Di nuansa fatamorgana sekuntum bunga 
Tapi itu hanya kiasan kata  
Untuk keterlambatan memilih dan memiliki

-Anugraha Pangestu-

Aku Adalah Kiran

Aku adalah kiran
Seperti buku usang diriku
Tersimpan dalam rak-rak yang sesak
bau lembaran-lembaran kayu menguning


Aku adalah kiran
Seorang yang lugu tak berdaya
Merasa hina ketika menatap
Menunduk untuk kesucianku


Aku adalah kiran
Yang tak pernah tau dunia ini
Tak mengenal cinta hingga
Jatuh ke tangan-tangan yang dusta 

Aku kini adalah kiran
Yang bersanding oleh arti terima kasih
Jalanku sama dengan kenanganku
Pahitku takpernah terasa pahit tetapi manis

-Anugraha Pangestu-

Si Pisau Sunyi

Tak luput dirimu dari dosa-dosa yang meradang
Menginginkan curahan kasih sayang dari Illahi
Ingin kembali dari sudut-sudut yang pucat
Tapi tak kunjung sampai dari ikatan-ikatan kabut yang dingin


Belahan jiwamu hanya seuntai hasil jemari pandai tempa
Bekerja sama untuk meminum hal-hal yang nista
Jurang kau pahami, api kau lewati, sunyi kau sayangi
Tapi hati kau dustai bersamanya


Sadarkah akan pahitnya tapak-tapak sucimu
Melangkah dengan jinjit kerikil
Menahan nafas untuk suatu kenikmatan
Memeluk untuk penderitaan


Kau Si Pisau Sunyi tak berkata tak bersuara....

-Anugraha Pangestu-

Sabtu, 11 Juni 2011

Senja Ayu

Indah terpanah oleh bisu memandang
Ketika kelembutan menitikkan air mata untuk kau
Aku rasakan belaian disekitar kau sangat hangat
Tapi sesukanya bibir-bibir halus menghina kau


Kau tak pernah lepas dari tangan kosong
Yang mendambakan hal-hal yang tak terduga
Berjanji untuk merubah diri menjadi jati
Dan merubah menggapai menjadi menggenggam


Tak habis nian lisanku berucap terus
Menginginkan waktu terus tertancap henti sejenak
Mengenang bersama kau tentang kehidupan
Merangkai bersama kau akan tujuan


Kau didambakan oleh semua orang berkeras hati
Meluluhkan karat-karat dalam benak jiwanya
Menghaturkan mutiara kasih damai untuk hidupnya
Pelipur untuk lara yang luka

-Anugraha Pangestu-

Ambigu

Mengerti atau tidakkah jalanmu
Dalam kesengsaraan hati bersenandung
Berkabung dalam selimut antah berantah
Dan bergemim di setiap bisikkan nafas


Mengerti atau tidakkah arti hidupmu
Jikalau kamu bersedih atau bersenang ria
Melupakan sejenak kodratmu sebagai
Seseorang karya Tuhanmu


Mengerti atau tidakkah semua pikiranmu
Membusuk atau menyandu hal positif
Merampas atau memberi kehormatan
Jikalau si tak bertulangmu menyakiti


Taukah kamu, mengertikah kamu, memahamikah kamu
Kalau kehidupan hanya sebatas ketidakpastian
Atau ketidakpuasan hasratmu
Seperti tatapan yang nanar

-Anugraha Pangestu-

Kamis, 09 Juni 2011

Pembukaan

Sesuatu yang ingin aku tulis
Hanya dalam sebuah karangan
Untuk hari-hariku dalam
Menyampaikan hal dari perombak merahku

Aku hanya seorang yang
Merasakan sesuatu rahasia
Dalam semua dan setiap
Labirin-labirin kehidupan

Kamu kamu kamu
Persilahkanlah dirimu untuk 
segenap merasakan apa yang 
sedikit dapat kamu sentuh

-Anugraha Pangestu_